
Tulisan kali ini bukan menceritakan rangkaian ikhtiar kita dalam memperoleh rezekiNya (baca : keturunan) namun perjalanan menuju salah satu RSIA disini yang ternyata sangat melelahkan.
Hari Jumat kemarin (6 Mei 2011), aku izin pulang lebih cepat untuk memulai berikhtiar kembali. Perkiraanku dari kantor jam 15.30 WIB selain karena bisa shalat Ashar terlebih dahulu juga aku pikir perjalanan tidak akan memakan waktu yang lama.
Jam 15.20 WIB keluar kantor, menunggu angkot yang lewat didepan kantor menuju Jl. Soekarno Hatta, tapi ternyata sudah 10 menit berdiri tidak ada satupun yang lewat (ga heran dibuat lelucon dinamakan Angkot Bedug alias munculnya kalau pas Bedug saja
Nah disinilah perjuangannya. Ternyata semua perkiraanku meleset jauh. Sampai dengan pukul 17.30 WIB perjalananku masih sangat jauh sekali. Semua itu disebabkan satu masalah yang sepertinya tidak pernah terselesaikan .. MACET
Aa yang kebetulan kantornya dekat dengan RS tersebut selalu sms dan telepon menanyakan posisi ku dimana (karena sebelumnya kita janjian disana). Arah jarum jam terus berputar, namun pergerakan angkot yang aku tumpangi tidak terlalu jauh. Aa ambil inisiatif untuk menjemput di sisa perjalananku dan kita berniat shalat Maghrib terlebih dahulu di salah satu masjid. Namun ternyata, walaupun naik motor juga tidak mudah bagi aa untuk menjemput - Kemacetan juga turut menghadang perjalanannya.
Akhirnya aa meminta ku untuk turun dari angkot dan berjalan kaki menuju tempat yang disepakati sehingga aa tidak perlu memutar (tau sendiri khan bagaimana arah jalan2 di Bandung). Niat shalat Magrib di masjid pun terpaksa dibatalkan mengingat waktu yang terus berjalan
Pukul 18.30 WIB sampai juga kita di Rumah Sakit, setelah mendaftar langsung kita melaksanakan shalat Maghrib.
Kalau sudah seperti ini aku membayangkan situasinya lebih parah dari kemacetan di Jakarta, apalagi untuk ukuran jalan kota Bandung seperti ini . Juga bermimpi kapan pemerintah kita benar2 serius membenahi masalah transportasi yang sudah berlarut2 seperti ini.
Foto ambil dari sini